Melalui Seni Rupa, Ingrid Mattson
Mengenal Islam
kisahmuallaf.com – Nama Ingrid
Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat ketika
namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inaugurasi
Barack Obama setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai
Demokrat itu menang dalam pemilu.
Mattson yang menjabat Presiden Komunitas
Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan
berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC,
sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44.
Undangan yang ditujukan kepada Mattson
ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa
federal terkait dengan jaringan teroris.
Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa
federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki
jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan
Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.
Namun, baik Mattson maupun organisasinya
tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian
yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal
lainnya.
Sebelumnya, Muslimah kelahiran Kanada
tahun 1963 ini juga pernah membuat kejutan dengan melakukan pertemuan dengan
pejabat tinggi Pentagon selama pemerintahan Bush. Dia juga hadir pada misa
Konvensi Nasional Partai Demokrat di Denver saat Obama mencalonkan diri sebagai
presiden.
Pemerintah AS dan ISNA sebenarnya
memiliki hubungan kerjasama yang baik. Kelompok tersebut memberikan latihan
agama kepada Biro Penyelidik Federal (FBI). Karen Hughes, orang kepercayaan
Bush, mengatakan bahwa Mattson sebagai pemimpin yang hebat dan panutan bagi
banyak orang. Mattson adalah seorang profesor studi Islam di Hartford Seminary
di Hartford, Connecticut.
Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang
filsafat dari Universitas Waterloo, Ontario, pada 1987. Sementara gelar PhD
pada studi Islam ia peroleh dari Universitas Chicago pada 1999. Penelitiannya
mengenai Hukum Islam dan Masyarakat. Selama kuliah di Chicago, ia banyak
terlibat pada kegiatan komunitas Muslim lokal.
Ia duduk dalam jajaran Direktur
Universal School di Bridgeview dan anggota komite Interfaith Committee of the
Council of Islamic Organizations of Greater Chicago. Mattson juga pernah
menetap di Pakistan dan bekerja sebagai pekerja sosial bagi pengungsi wanita
Afghanistan selama kurun waktu 1987-1988.
Pada 1995, ia ditunjuk sebagai penasihat
bagi delegasi Afghanistan untuk PBB bagi Komisi yang membidangi Status
Perempuan.
Saat bekerja di kamp pengungsi di
Pakistan inilah ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, Amer Aetak,
seorang insinyur dari Mesir.
Dari pernikahan mereka, pasangan ini
dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soumayya dan satu orang anak
laki-laki bernama Ubayda.
Meski saat ini banyak berkecimpung dalam
kegiatan keagamaan ISNA, sebuah organisasi berbasiskan komunitas Muslim
terbesar di AS, namun Mattson kecil tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen
di Kitchener, Ontario, Kanada. Ayahnya adalah seorang pengacara, sementara
ibunya bekerja di rumah membesarkan ketujuh anaknya.
Mattson berhenti pergi ke gereja pada
usia 16 tahun dengan alasan tidak bisa lagi percaya dengan apa yang diajarkan
oleh gereja. Saat menimba ilmu di Universitas Waterloo, ia mempelajari seni dan
filsafat, yang dinilainya menekankan kebebasan seseorang untuk memilih.
”Setahun sebelum saya masuk Islam, saya
banyak menghabiskan waktu untuk mencari dan melihat hal-hal yang berhubungan
dengan seni. Saat mengikuti pendidikan bidang filsafat dan seni rupa, saya
duduk berjam-jam dalam ruang kelas yang gelap untuk melihat dan mendengarkan
penjelasan profesor saya melalui infokus proyektor. Beliau menjelaskan tentang
kehebatan hasil karya Seni Barat,” paparnya seperti dikutip dari situs
whyislam.org.
Wajah Islam
Saat di Waterloo ini, Ingrid Mattson
sempat bekerja pada bagian Departemen Seni Rupa, yang salah satu tugasnya
mempersiapkan slide dan katalog seni. Karenanya setiap kali masuk ke
perpustakaan, menurut Mattson, ia selalu mengumpulkan buku-buku seni sejarah.
Dan untuk mendapatkan bahan-bahan guna
keperluan pembuatan katalog seni, ia terpaksa harus pergi ke museum yang ada di
Toronto, Montreal, dan Chicago.
Bahkan, ia harus merelakan masa liburan
musim seminya dihabiskan di dalam Museum Louvre yang berada di tengah Kota
Paris. Saat berada di Paris inilah untuk kali pertama dalam hidupnya Mattson
berjumpa dengan seorang Muslim. Ia menyebut momen tersebut sebagai ‘the summer
I met Muslims’. ”Saya selalu terkenang akan peristiwa ini,” ujarnya.
Apa yang dicarinya selama ini, ungkap Mattson,
hanya berkaitan dengan semua karya seni yang tergambar dalam bentuk visual.
Peradaban Barat memang dikenal memiliki tradisi menggambarkan sesuatu dalam
bentuk visual, termasuk penggambaran mengenai keberadaan Tuhan.
”Kita banyak membuat kesalahan dengan
berpikir bahwa melihat berarti mengenali, dan semakin terekspose seseorang itu,
maka semakin pentinglah orang tersebut,” kata Mattson.
Namun, akhir dari pencariannya tentang
seni telah membawa Mattson bertemu dengan dua orang seniman, laki-laki dan
perempuan, yang tidak membuat patung dan lukisan sensual tentang Tuhan. ”Mereka
telah mengenali Tuhan dengan cara yang berbeda, menghargai pemimpin, dan
menghargai hasil kerja seorang wanita,” tuturnya.
Gambaran mengenai Islam yang ia dapatkan
dari kedua orang teman barunya ini, membawa Mattson pada pengenalan wajah Islam
yang semakin baik.
Ia menyatakan, peradaban Islam tidak
menganut sistem penggambaran sesuatu dalam bentuk visual di dalam mengingat dan
memuji Tuhan dan menghargai seorang Nabi.
”Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah
sesuatu yang tersembunyi. Tersembunyi dalam pantulan mata umat manusia. Tetapi,
orang yang memiliki penglihatan dapat mengenali Tuhannya dengan melihat,
mempelajari pengaruh dari kekuatan ciptaan-Nya,” papar Mattson.
Selain penggambaran terhadap Tuhan, umat
Islam juga melarang penggambaran terhadap semua Nabi Allah Subhanahu Wa Ta’ala
. Umat Islam hanya menuliskan nama mereka dalam bentuk kaligrafi. Kata-kata,
tulisan, dan ucapan serta akhlak mulia dalam kehidupan merupakan media utama
bagi Muhammad SAW dalam menyebarkan pengaruhnya ke seluruh umatnya.
Dari sinilah kemudian Mattson mulai
tertarik untuk mempelajari keyakinan yang dianut oleh kedua temannya yang asal
Senegal itu.
Ia pun mulai menggali tentang ketuhanan
dan kepribadian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui Al-Quran
terjemahan. Setelah banyak mempelajari lebih jauh mengenai Islam dari Al-Quran,
Mattson akhirnya menyadari dan yakin adanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
”Pilihan-pilihan anda mencerminkan siapa
diri anda. Meski ada keterbatasan, tapi selalu tersedia kesempatan untuk
memilih yang terbaik,” katanya.
Yang membuatnya semakin tertarik dengan
Islam adalah semua umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak hanya
mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan,
mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan
tetangga. Semua perbuatan, perkataan, dan perilaku Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam inilah yang disebut dengan sunah.
Dan pengaruh sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut telah tergambar pada kehidupan para orang
tua, muda, kaya, miskin, yang menjadikannya sebagai suri teladan bagi semua
pengikutnya.
”Pertama kali saya menyadari pengaruh
fisik dari sunah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada generasi muda
Muslim adalah ketika suatu hari saya duduk di masjid, menyaksikan anak saya
yang berumur 9 tahun shalat di samping guru mengajinya. Ubayda duduk di samping
guru dari Arab Saudi yang dengan tekun dan lembut mengajarinya sehingga
membuatnya sangat respek dan hormat,” tuturnya.
Perkenalan Ingrid Mattson tentang Islam
makin berkembang saat ia berkunjung ke sejumlah negara yang mayoritas
berpenduduk Muslim.
Beberapa peristiwa yang dia temui di
negara-negara tersebut, diakui Mattson makin mempertebal keyakinannya terhadap
Islam.
Lebih setahun, dalam perjalanannya ke
negara-negara Muslim ini ia menyaksikan kesamaan keinginan untuk berbagi dan
selalu saling memberi antara sesama serta kesamaan keyakinan yang mendalam.
”Makanan untuk dua orang cukup untuk
tiga orang dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang,” jelasnya
sambil mengutip hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Salah satunya adalah ketika ia
mengunjungi Kosovo. Selama serangan Serbia ke Kosovo, banyak Muslim Albania
yang menyediakan rumah mereka untuk para pengungsi. Bahkan, satu orang memasak
setiap harinya untuk 20 orang dalam rumah yang sederhana.
Begitu juga ketika ia menikah di
Pakistan. Sebagai pekerja sosial pada kamp pengungsian, Mattson dan suami tidak
memiliki cukup uang. Sekembalinya dari pernikahan ke kamp pengungsian, para
wanita Afghanistan bertanya kepadanya tentang pakaian, perhiasan emas, cincin
kawin, dan kalung emas yang diberikan oleh suami kepadanya sebagai mahar.
”Saya perlihatkan kepada mereka cincin
emas sederhana dan saya ceritakan tentang baju pengantin yang saya pinjam untuk
menikah. Wajah mereka langsung berubah menunjukkan perasaan sedih dan simpati,”
tuturnya.
Sepekan setelah peristiwa itu, saat ia
sedang duduk di depan tenda kamp pengungsi yang berdebu, para wanita
Afghanistan tersebut muncul lagi. Mereka datang menemuinya dengan membawa
celana biru cerah terbuat dari satin dengan hiasan emas, sebuah baju berlengan
merah dengan warna-warni dan scarf warna biru yang tampak serasi dengan
pakaian, sebagai hadiah pernikahan.
”Semua yang saya lihat adalah hadiah
pernikahan yang tak ternilai bagi saya. Bukan saja dukungan mereka, tetapi
pelajaran keikhlasan dan rasa empati yang mereka berikan yang merupakan buah
yang sangat manis dari sebuah keyakinan yang benar,” pungkas Mattson.
Sumber
: